Langsung ke konten utama

Kado Untuk Ibu

Ibu, tertegun hati ini. Ingin rasanya pulang. Mencium tanganmu, bertemu denganmu, memakan masakanmu.

Ibu, banyak hal yang kurindukan darimu. Banyak hal yang tidak bisa kutemui disini, ditempat perjuanganku menuntut ilmu.

Ibu, banyak tangan-tangan yang kucium. Guru, dosen, atau orang-orang lain yang aku hormati. Tapi tetap tangan lembutmu yang paling kurindu untuk kucium, kujabat, kugenggam. Tangan yang selalu membelaiku dengan penuh kasih sayang.

Ibu, sudah banyak orang yang aku temui disini, mengenal sifat mereka. Tapi belum lengkap rasanya, belum nyaman hati ini jika belum bertemu denganmu. Meskipun teknologi sekarang canggih, aku tetap ingin bertatap muka secara langsung, tak terhalang oleh layar kaca. Aku ingin berbicara secara langsung, tak terbatasi oleh benda seukuran genggaman tangan itu. Kau yang paling kurindukan, kau yang paling ingin kutemui, kau sosok yang paling ingin kuukir senyumnya, bu.

Ibu, walaukata jaman sudah modern, rumah makan dimana-mana, hidangan cepat saji berjejeran dipinggir jalan, bahkan ditambah pelayanan siap antar, tetap saja masakanmu yang selalu melekat dihati, masakanmu yang paling menggugah selera makanku, bu. Andai saja aku bisa pesan-antar masakanmu.

Bu, masih ingatkah? Dulu kau membawakanku masakanmu, banyaak sekali. Kau bilang ini bekal makan untukku dan teman-teman. Masakannya sederhana. Pepes ayam, pepes tahu, ayam goreng, sayur, tempe oreg, lalaban, dan tak lupa kau bawakan aku sambal. Kau bekalkan itu semua. Dan bu, aku makan itu bersama teman-teman yang lain. Aku ajak mereka menghabiskan masakanmu. Kau tau apa respon mereka,bu? Awalnya mereka bilang, "wih kaya mau piknik" . Tapi apa yang terjadi bu? Mereka melahap masakan ibu, bertanya apakah ini semua ibu yang masak, mereka memuji-mujimu bu. Yang suka masakanmu ternyata bukan hanya orang-orang sunda, atau jawa. Tapi orang dengan lidah sumatra pun suka. Terutama aku, anakmu. Rasa sukanya melebihi mereka, bahkan aku jatuh cinta dengan masakanmu, bu. Iya bu, aku jatuh cinta berkali-kali denganmu.

Ibu, saat ini...entah kau bahagia atau tidak, kita kenal istilahnya ulang tahun. Iya bu, dulu terkadang kita sengaja makan diluar hanya berempat untuk memperingati hari kelahiran. Tapi sekarang, anak-anakmu makin tumbuh dewasa, aku masih di Bandung, masih ada yang harus kuselesaikan, dan baru akan pulang tanggal 25 Juni mendatang. H+5 hari kelahiranmu.
Sedangkan Adit, dia pun di Kuningan, sebentar lagi bagi raport dan kemudian baru bisa pulang untuk berlibur.

Sebentar lagi, bu. Sebentar lagi kita akan berkumpul bersama. Ibu, Ayah, Laras, dan Adit. Sebentar lagi.

Ibu, doakan anak-anakmu ini. Kita tidak selalu bersama dan bertatap muka 24 jam. Kita berbeda daerah. Kita berbeda ruang. Tapi percayalah bu, perbedaan ruang ini adalah untuk mencari ridho-Nya, dalam upaya menggapai ilmu. Doakan ya bu, mudah-mudahan studi yang harus mengorbankan jarak denganmu ini lancar, bisa cepat selesai, bisa cepat mewujudkan mimpi. Dan kita bisa secepatnya bersama, tanpa khawatir akan ada jarak. Tak apa jarak kita terpisah, tapi Laras yakin doa kita selalu bersama, 24 jam non-stop :) .

Kadoku untuk ibu, mungkin tidak relevan, mungkin tidak berbekas, tapi khusus untukmu,bu. Aku akan pulang, kujadikan kepulanganku sebagai kado untukmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindu (lagi)

Satu hal yang kubenci dari merindu ; ketika rindu, tapi tak bisa berbuat apa-apa BBM, Whats App, Line, bagiku terlalu tidak instan. Aku tak ingin slow respon . Tapi apa daya, bakatnya mahasiswa yang merantau, ketika rindu yang memuncak namun kondisi keuangan mencekak ; tak punya pulsa. Aku memang sangat ingin menelfon kalian, menanyakan kabar dan memberanikan diri berkata, "Ayah, Ibu, yang sehat ya. Laras sayang kalian". Semua omong kosong jika disandingkan dengan fakta saldo pulsa. Klasik sekali masalah ini. Rasanya ingin UAS secepatnya selesai. Ingin uang beasiswa secepatnya cair. Dan aku bisa pulang dari perantauan. Bertemu dan menghilangkan kerinduan. Malam ini, puncak dari kerinduan itu. Saat kucoba menelfon dengan BBM, Whats App, tapi tak ada jawaban. Gemes. Ingin menelfon tapi tak bisa!. Dan obat dari segala obat rindu ; doa. Diakhir solat ku berdoa, ya Allah, ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa keluargaku. Jauhkan kami dari siksa api ner...

Halo, Hati.

Jum'at berkah, 26 Agustus 2016 Halo, hati. Apa kabarmu? masih bisa merasakan mana yang benar-benar pilihanmu? atau hanya ingin karena menurutmu itu keren? Hati, pilihlah yang kamu yakin mampu melakukannya. Pilihlah yang sesuai dengan kesiapanmu. Lagi-lagi kita bicara soal 'kadar' dan 'ukuran'. Seringkali aku lupa pelajaran kimia, bagaimana caranya mengukur kadar kemampuan. Tapi aku tidak lupa pelajaran berhitung. Karena yang kutau, setiap hitungan semangat juang, usaha untuk mencoba, dan doa yang terus diulang seringkali mengalahkan rasa ketidakmampuan. Mampu itu relatif, hati. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Pandangan orang lain kah? atau diri sendiri? asal siap saja dengan konsekuensinya. Maaf, hati. Aku terlalu 'ngalor-ngidul'. Sebenarnya hanya untuk memastikanmu. Kau tau kan? kadang aku berfikir apakah aku bodoh dan benar-benar tidak bisa?. Tapi aku percaya kalimat bijak yang legendaris itu, "Tidak ada orang bodoh, yang ada...

Inilah (Curcolan) Tugas Farmasis

Intro: Me: anak farmasi yang "ga mau diem" ;  Curiosity tinggi, ibarat bahasa perusahaan yang lagi buka lowongan kerja "any kind of science are welcome". Lebih seneng bikin project sana-sini. Lebih seneng screening mana orang yang bisa berpotensi diajak dalam tim di project. Seneng ketemu orang baru, ngejalin relasi. Seneng ngebuat gagasan dan ide-ide baru untuk dituangkan dalam project dan paper. Ga cuma project spesifik farmasi, tapi juga psikologi ataupun integrated science lainnya. Part-time researcher. Tertarik juga dengan bidang pendidikan dan peningkatan prestasi. Seneng dengan ilmu-ilmu baru. Kemudian, pas liat berita terbaru penyakit yang disosialisasikan dari rumah sakit/puskesmas/ bahkan apoteker yang kerja di industri farmasi ---- me, langsung ngerasa "lho, Ras. Itu juga loh nantinya duniamu. Community pharmacy dan industri farmasi". Me----iyayah, berasa ga nyantai. Inti: Sosialisasi terkait penyakit difteri sedang digencarkan seluas-lua...