Langsung ke konten utama

Alhamdulillah

21:24 WIB.  Rabu, 2 Desember 2015

Handphone ku berdering tanda sms masuk.

"Laras, aktif BBM gk neng? Oo iya itu yg PKM-GT yg IHV (Indonesian Herbal Village) lolos masuk say? "

dari Dewi rupanya.

"Engga, tabletku rusak dew. Gatau aku, blm tau infonya" balasku.

"Azmi td ngeshare d line yg grup S-S hexagent.. Aku gatau itu teh apa.. Tp teman-teman pd bilang congrats gitu. Dan disitu tertera nama km plus IHV itu ras.. Dan ada tulisan PKM-GT.. "

"Waaa gatau, bentar aku gamau kePDan dulu wkwk. Besok insya Allah aku ke kampus cari wifi. Nanti baru aku buka line. Dew bismillah yah kita :)".

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kamis, 3 Desember 2015

Tadi pas mau naik tangga, teh Rani ngucapin selamat tentang PKM. "Apa bener ya lolos?" pikirku. Ah, gamau percaya dulu deh. No pict, hoax kan? LOL.

Tempat yang enak buat ngerjain tugas kalo di kampus ya perpustakaan. Laptopku baru nyala pas jam 10an. Perpus bakal istirahat dan tutup sekitar jam 12an. Deadline ngumpulin tugas ke email koor matkul jam 13an. Oke, Ras, fokus selesain tugas dulu baru buka line.

Keluar dari perpus, ada beberapa orang yang ngucapin selamat. "Kayanya bener deh Ras lolos" bisikku.

Oke, aku buka line di PC. Aku liat infonya dengan deti., Buka website http://simlitabmas.dikti.go.id/  dan ngeliat pengumuman terbarunya. Ada nama aku, seriusan ada. Ternyata ga hoax. Alhamdulillah...



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perpustakaan, meja pertama sebelah kiri, duduk di samping tembok dengan jendela terbuka dan pemandangan siang hari yang nyaman. Ga terlalu panas, agak mendung. Ada pot bunga di deket tulisan 'MOHON TIDAK MEMBAWA TAS KE RUANG BACA. TAS DAN BARANG LAINNYA SIMPAN DI LOKER !!!'. Masih agak ga percaya itu bisa di danai. Eh, alhamdulillah...bersyukur banget. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Congrats Teh Indah, Congrats Dewi :)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dari sini juga, jadi pengen agak flash back. Tentang karya tulis yang alhamdulillah bisa nganter aku ke Turki dan di danai Dikti.

Dari semenjak maba (mahasiswa baru) aku pengen ke Turki. Kepikirannya sih mungkin S2 di sana. Waktu itu aku aktif banget ngikutin timeline twitternya @ppiturki . Terus makin semangat ketika iseng ngetweet dan diaamiinkan :D. Pas tahun 2014.



Singkat cerita, pas aku ikutan les bahasa inggris program holiday, ada yang ngasih info tentang conference di Turki. Nah waktu itu aku langsung nekat mau ikutan. Ga tau deh aku bisa atau engga, ga mikir itu nanti gimana, yang penting mau nekat ikutan karena ada embel-embel 'Turki'. Nah pas tes TOEFL di les selesai, aku langsung mulai fokus mikirin konsep apa yang bakal aku bawa. Nilai TOEFLnya masih dibawah 500 :(.
Bismillah aku browsing website conferencenya, nentuin tema apa yang mau aku ambil, dan konsultasi sama yang punya tempat les, Kang Ades namanya. Dapetlah aku tambahan ide.

Masih di sekitar geger kalong (waktu itu nginep di kostan mbaWie), aku mulai bikin abstrak buat diikutin ke conference. Selesai ngirim abstrak, barulah aku 'riweuh'. Kepikiran waduh nantinya gimana, sangup ga ya kalo aku cuma sendiri? kalo nanti presentasinya pake bahasa inggris, apa aku bisa?.
Langsung aku nyari temen buat dijadiin partner karya tulis. Aku milih Dewi, karena bidang dia sesuai dengan tema umum conference. Dan aku milih Teh Indah, seniorku di Farmasi.

Alhamdulillah abstrak kita lolos, dan harus ngirim full paper.
Dari situ makin deg-degan deh. Ujian demi ujian mulai berdatangan. Tapi selalu percaya sih, semakin susah dan berat rintangan, semakin dekat sama kesuksesan.

Mulai juga ngurus-ngurus proposal pengajuan dana, dll. Masih disibukkin juga sama tugas-tugas kuliah (farmasi oh farmasi, kenapa ga bisa lebih santai sedikit? LOL).

Singkat cerita, udah dapet fiksasi bakal dapet dana dari rektorat dan fakultas. Tapi sayangnya rektorat cuma bisa ngebiayain 1 orang. Kalo bisa bertiga berangkatnya, dijamin pasti lebih seru. Pasti aku ga bakalan nangis di bandara istanbul.

Akhirnya aku berangkat. Modal nekat. Modal punya kenalan mahasiswa yang kuliah di Turki. Modal doa orang tua, keluarga, teman-teman, guru, dll. Modal pengen ngewujudin mimpi. Bismillah...

Waktu itu nenek aku salah satu orang yang takut aku pergi ke sana. Sebenernya dari Indonesia ga cuma Unpad aja yang lolos, masih ada univ lain. Tapi mereka ga jadi berangkat. Oke, jadilah sendirian.
Pas di bandara Soetta, tanteku nanya mau nuker uang dulu ga? terus dengan PDnya aku bilang, ga usah, nanti aja di sana. Saat itu aku mikirnya pastilah di semua bandara internasional ada penukaran uang. Dan aku takutnya kalo nuker di sini, harganya lebih mahal.

Aku transit di bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Penerbangan berikutnya ke Istanbul. Sampai di Istanbul, aku bingung nyari-nyari musola. Nanya pake bahasa inggris, cuma sedikit yang bisa. Akhirnya nanya ke petugas semacam OB pake bahasa tubuh (jalan terakhir karena aku pun ga ngerti bahasa turki LOL). Akhirnya tau juga lah, lokasinya ada di lantai sekian. Selesai solat, aku ke tempat penukaran uang, ada di lantai 1. Penerbangan selanjutnya ke Izmir sekitar jam 16an (waktu Turki). Ngantri lumayan lama di penukaran uang. Ternyata, pas giliran aku mau nuker, kata petugasnya mereka ga nerima rupiah. Dezig!!! kenapa aku ga ngikutin tante ya nukernya di Soetta. Duh Larassss :(. Boro-boro bisa beli kartu buat ngehubungin ortu dan teh Erna, beli air mineral pun ga bisa. Caleuyyy :(.

Langsunglah aku ke tempat tiket buat pergi ke Izmir. Petugas boarding pass nya udah pada ga ada. Aku bingung kudu kemana. Nanya petugas lain, ditunjukkin loket pembelian tiket pesawatnya. Ternyata katanya aku ketinggalan pesawat, harus beli tiket baru. Ya kali, boro-boro beli tiket baru. Tapi pas aku liat di papan info, pesawat yang harusnya aku tumpangin itu masih belum lepas landas, kalo aja penjaganya masih di tempat boarding pass, pasti aku bisa masuk.

Dan panik. Aku bilang ke petugas yang bisa bahasa inggris kalo aku mau ngehubungin temenku. Dia malah nunjukkin telepon umum yang bayarnya pake kartu kredit. Kartu kredit dari mana? aku ga punya :(.

Saat itu aku mikir, harusnya hari pertama aku nginjekin kaki di Istanbul adalah hari yang menyenangkan. Tapi nyatanya? pfff~.

Aku minta lagi ke petugas buat bisa ngehubungin temen. Karena nomer temenku alhamdulillah nomer turki, jadi petugas ngijinin aku buat nelfon pake hpnya. Alhamdulillah....

Nelfon Teh Erna. Kebetulan beliau lagi di Istanbul. Teteh maafin Laras ngerepotin :'). Aku nunggu teh Erna di pintu keluar bandara. Wushh udara dingin Istanbul langsung menyapa. Aku kaget juga ternyata banyak perempuan yang ngerokok. Mungkin ini yang namanya shock culture.

Akhirnya teh Erna dateng, bareng sama 2 orang lainnya. Teh Erna berbaik hati mau nalangin tiket buat ke Izmir. Katanya nanti di sana aku bakal dijemput sama ppi sana, cari aja yang mukanya asia.

Waktu itu kalo ga salah awal-awal musim semi. Pokoknya berasa ga malem-malem, soreee terus. Berangkatlah aku naik pesawat ke Izmir. 

-to be continued-.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindu (lagi)

Satu hal yang kubenci dari merindu ; ketika rindu, tapi tak bisa berbuat apa-apa BBM, Whats App, Line, bagiku terlalu tidak instan. Aku tak ingin slow respon . Tapi apa daya, bakatnya mahasiswa yang merantau, ketika rindu yang memuncak namun kondisi keuangan mencekak ; tak punya pulsa. Aku memang sangat ingin menelfon kalian, menanyakan kabar dan memberanikan diri berkata, "Ayah, Ibu, yang sehat ya. Laras sayang kalian". Semua omong kosong jika disandingkan dengan fakta saldo pulsa. Klasik sekali masalah ini. Rasanya ingin UAS secepatnya selesai. Ingin uang beasiswa secepatnya cair. Dan aku bisa pulang dari perantauan. Bertemu dan menghilangkan kerinduan. Malam ini, puncak dari kerinduan itu. Saat kucoba menelfon dengan BBM, Whats App, tapi tak ada jawaban. Gemes. Ingin menelfon tapi tak bisa!. Dan obat dari segala obat rindu ; doa. Diakhir solat ku berdoa, ya Allah, ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa keluargaku. Jauhkan kami dari siksa api ner...

Halo, Hati.

Jum'at berkah, 26 Agustus 2016 Halo, hati. Apa kabarmu? masih bisa merasakan mana yang benar-benar pilihanmu? atau hanya ingin karena menurutmu itu keren? Hati, pilihlah yang kamu yakin mampu melakukannya. Pilihlah yang sesuai dengan kesiapanmu. Lagi-lagi kita bicara soal 'kadar' dan 'ukuran'. Seringkali aku lupa pelajaran kimia, bagaimana caranya mengukur kadar kemampuan. Tapi aku tidak lupa pelajaran berhitung. Karena yang kutau, setiap hitungan semangat juang, usaha untuk mencoba, dan doa yang terus diulang seringkali mengalahkan rasa ketidakmampuan. Mampu itu relatif, hati. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Pandangan orang lain kah? atau diri sendiri? asal siap saja dengan konsekuensinya. Maaf, hati. Aku terlalu 'ngalor-ngidul'. Sebenarnya hanya untuk memastikanmu. Kau tau kan? kadang aku berfikir apakah aku bodoh dan benar-benar tidak bisa?. Tapi aku percaya kalimat bijak yang legendaris itu, "Tidak ada orang bodoh, yang ada...

Inilah (Curcolan) Tugas Farmasis

Intro: Me: anak farmasi yang "ga mau diem" ;  Curiosity tinggi, ibarat bahasa perusahaan yang lagi buka lowongan kerja "any kind of science are welcome". Lebih seneng bikin project sana-sini. Lebih seneng screening mana orang yang bisa berpotensi diajak dalam tim di project. Seneng ketemu orang baru, ngejalin relasi. Seneng ngebuat gagasan dan ide-ide baru untuk dituangkan dalam project dan paper. Ga cuma project spesifik farmasi, tapi juga psikologi ataupun integrated science lainnya. Part-time researcher. Tertarik juga dengan bidang pendidikan dan peningkatan prestasi. Seneng dengan ilmu-ilmu baru. Kemudian, pas liat berita terbaru penyakit yang disosialisasikan dari rumah sakit/puskesmas/ bahkan apoteker yang kerja di industri farmasi ---- me, langsung ngerasa "lho, Ras. Itu juga loh nantinya duniamu. Community pharmacy dan industri farmasi". Me----iyayah, berasa ga nyantai. Inti: Sosialisasi terkait penyakit difteri sedang digencarkan seluas-lua...