I can't help my tears. I am trying my best not to cry but it's totally hard.
Jadi aku ngontrol suara aku biar ga kedengeran parau. Setiap kali aku mulai berkaca-kaca, kameranya aku jauhin dari wajah biar ga keliatan. Dan setiap kali mata ibu lagi ga ngadep ke kamera, itulah saat yang tepat buat aku ngusap air mata. Sambil aku atur nada biar kedengeran "biasa", ga lupa tawaan, ledekan, dan senyum lebar aku kasih. Baru ngerasain susahnya tetep stay cool pas video call-an sama ibu. Padahal biasanya selalu berhasil. Baru kali ini air mata beneran jatuh pas lagi video call-an (semoga ga ketauan/ga keliatan karena suara dan posisi kamera udah aku atur sedemikian rupa).
- I am totally fine. I really am. -
Pas awalnya aku nelfon, baru berapa kali bunyi "tuut", telfonnya udah langsung aku tutup. Bukan karena ibu yang lama ngangkat atau aku yang ga sabaran. Justru karena aku keburu nangis duluan bahkan sebelum telfonnya diangkat.
- I am okay. I am totally okay. -
Mom, thank you for all of your kindness. Sabar ya bu, maafin masih belum bisa pulkam sekarang. Semoga maksimal tanggal 20 Juni bisa pulang.
Ga ngerti kenapa hari ini jadi cengeng. Mungkin karena kapasitas kotak perasaannya udah numpuk, alhasil jadi meluber dalam bentuk tangis. It's okay. Kadang air mata adalah obat yang memberikan kelegaan tersendiri.
As I've promised you, myself. That I am never gonna give up.
Dear myself, have a courage and be patient. Something beautiful awaits you 😇.
Semoga penelitiannya dimudahkan dan dilancarkan. Semoga Juli bisa sidang, dan Agustus keterima di Apoteker Unpad.
Jatinangor, saat officially jadi orang terakhir di kostan. Sendirian entah kapan pulkam. Menghitung hari menuju hari lahirnya ibu. Dan menghitung hari menuju hari kemenangan. 18 Juni 2017.
Komentar
Posting Komentar