Langsung ke konten utama

Karena Allah Sang Penulis Skenario Terbaik

“Selamat hari Rabuuuu!”, beberapa detik yang lalu gue baru aja ngucapin itu ke diri gue sendiri.
Semua kegabutan akan segera berakhir (well, ga bisa murni dibilang gabut sih, karena gue tetep ada project sama dosen buat publish artikel di jurnal internasional, masih ada abstrak yang perlu direvisi lagi sebelum di submit di event, masih ada abstrak temen yang harus gue translate jadi abstract, ada rapat, ngingetin para kadept buat segera ngumpulin LPJ jadi bisa secepetnya sertijab, sibuk ‘me time’, atau hal unpredictable lainnya".

Ga gabut kan ya itu? (please kuatin gue, bilang kalo itu ga gabut :v) LOL *canda.

Oke, kita liat dari sudut pandang (gue) yang lain dari maksud kata "gabut".

Jadi, dipertengahan bulan ini gue belum dapet acc (lagi) untuk maju sidang. Gue terlalu mepet ngasih draft, jadi belum bisa direvisi dosen. Sedangkan emang dosbing gue kebetulan dua-duanya sibuk. Apalagi sekarang fakultas lagi ngurus akreditasi.
Well, saat itu gue sedih menerima kenyataan bahwa gue harus ikut sidang di bulan yang lain, yang berarti bahwa gue masih harus bayar UKT dan studi profesi gue pun jadi keundur baru bisa ikut di awal tahun depan. Baper? Iya.. Tapi sekarang udah engga ko, insyaallah.
Jadi, karena gue ga ada niatan buat ambil mata kuliah lain selain sks sidang, kesibukan gue di kuliah pun cuma tinggal revisian dan persiapan sidang. Masih ada 2 bulan menuju bulan Oktober. Ini penilaian gue tentang kegabutan.

Gue mikir keras gimana caranya gue ga diem aja tanpa aktivitas (padahal kerjaan mah da aya wae). Gue pengen tetep bisa belajar dan dapet ilmu buat persiapan apoteker nanti, tapi bukan dengan cara ngulang mata kuliah.

Alhasil gue memutuskan untuk magang. Gue list tuh industri-industri farmasi (Jakarta dan Bandung). Tapi kemudian gue lebih prefer yang lokasi Bandung biar lebih deket ke kampus (kalo-kalo harus ke kampus). Gue nyari info senior yang kerja di industri farmasi, semuanya dari linkedin. Gue kontak beberapa untuk nanya gimana caranya gue bisa magang disitu dan dokumen apa aja yang harus gue kirim.

Alhamdulillah ada yang welcome banget. Dan alhamdulillah hati gue pun berlabuh di industri yang tepat, di posisi yang insyaallah capable dengan gue, posisi business development.

Kemarin gue diundang interview. Jadwal interview jam 16.00 tapi gue udah ada disekitaran lokasi dari jam 11an. Iya, gue survey tempat dulu kan biar nanti ga lama nyari lokasi. Setelah nemu lokasinya, gue sarapan(yang sekaligus bisa disebut makan siang) di warung nasi kuning ujung jalan. Setelah itu gue melipir ke masjid Baiturrahman buat numpang sholat dan tempat ngadem sambil nunggu jam 16.00.

Yang bikin lucunya adalah, gue dari kemarin2 udah browsing-browsing tuh kira-kira pertanyaan apa aja yang bakal ditanyain pas interview nanti. Gue siapin jawabannya, gue latihan sambil gue rekam jawaban gue. Gue cari tau lebih dalem produk-produk perusahaan itu. Karena gue apply nya untuk posisi busdev, jadi gue ga ditempatin di factory nya, tapi di kantornya.
Pas wawancara, ternyata gue ga ditanyain macem2 pertanyaan yang udah gue browsing. Gue justru langsung dijabarin tugas busdev di situ nanti ngapain aja, konsultan biasanya hari apa dan jam berapa dateng, ditanya kapan gue bisa mulai magang, dan gue bilang gue bisa full time, katanya bisa lembur, tunjangan apa aja yg gue dapet, dan “kalo ada apa2 bilang aja. Kita fleksibel ko. Kalo misal mendadak harus ke kampus, atau kalo misal kejebak macet jadi telat, bilang aja”.

Bahkan mereka welcome banget dan sangat menyarankan nantinya gue lanjutin kerja di sana. Gue bilang dalam hati, “alhamdulillah… Semoga gue berjodoh dengan industri ini”.

Jadi, pada akhirnya, skenario Allah emang paling baik. Segimana pun gue udah ngerancang rencana hidup gue (lulus S1 bulan Juli, lanjut Apoteker bulan Agustus, lanjut S2, dsb), inget, Allah juga selalu punya rencana lain yang terbaik menurut-Nya. Seberapa keras rengekan kita kepada Allah untuk keinginan kita, jika Allah tidak ridho, Allah tetap akan tunjukkan jalan yang lebih indah sesuai pilihan-Nya.
Hanya seringkali kita yang ga sadar dan lupa kalo Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya. Tugas kitalah yang mencari makna dan kado indah (hikmah) dibalik suatu peristiwa yang terjadi kepada kita.

Dari kebaperan tingkat tinggi mahasiswi tingkat akhir, gue belajar banyak. Bukan tentang ilmu duniawi aja, tapi juga ilmu akhirat yang harus dipraktekkan di dunia.

Sabar emang ga mudah, tapi mau ga mau kita harus selalu bisa bersabar dan menerima dengan ikhlas, berlapang dada, bertawakal, menyadari bahwa manusia ga punya apa-apa untuk bisa dibanggakan, secara sadar dan tidak penuh dengan dosa. Maka memohon ampunan-Nya atas segala khilaf, dosa, kebodohan, serta memohon petunjuk, bimbingan, karunia, rahmat, dan ridho-Nya adalah cara agar Dia menunjukkan kita kepada yang terbaik.

Sekarang, alhamdulillah gue udah bener-bener ga baper terkait sidang yang diundur. Gue udah kepencar sama temen2 sengakatan gue. Dan gue gapapa. Toh kita ga mungkin bareng terus, cepet atau lambat. Justru gue bersyukur, karena hal ini, gue malah lebih dulu bisa ngerasain “real” nya dunia kerja farmasi. Gue justru langsung learning by doing tentang pencarian obat yang bisa dikembangkan, formulasinya, jurnal2 acuan, regulasinya di Indonesia, dipresentasikan, bekerja sama dengan pihak lain, dsb. Dan gue, yang notabene anaknya ga bisa diem, udah excited banget sama pekerjaan ini. InsyaAllah semoga pas apoteker nanti gue ga kosong2 banget karena udah ada sedikit pengalaman terjun langsung (meskipun kemungkinan besar apotekernya bareng sama adik kelas). Gue, Laras, insyaallah Unbreakable karena gue percaya bahwa Allah ga akan pernah menelantarkan hamba-Nya.

Jadi, inti dari semua ini adalah kita yang harus bisa melihat masalah/kejadian dari beragam sudut pandang. Perspektif kita yang harus kita atur. Biar ga baper2 banget kalo ada hal yang ga sesuai dan bisa cepet move on biar bisa terus berkarya.

Lagi dan lagi, skenario Allah selalu yang terbaik. Karena Dia lah pembuat skenario kehidupan kita.

-
Jatinangor, 26 Juli 2017. Saat suhu semalam mencapai 17 derajat celcius.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindu (lagi)

Satu hal yang kubenci dari merindu ; ketika rindu, tapi tak bisa berbuat apa-apa BBM, Whats App, Line, bagiku terlalu tidak instan. Aku tak ingin slow respon . Tapi apa daya, bakatnya mahasiswa yang merantau, ketika rindu yang memuncak namun kondisi keuangan mencekak ; tak punya pulsa. Aku memang sangat ingin menelfon kalian, menanyakan kabar dan memberanikan diri berkata, "Ayah, Ibu, yang sehat ya. Laras sayang kalian". Semua omong kosong jika disandingkan dengan fakta saldo pulsa. Klasik sekali masalah ini. Rasanya ingin UAS secepatnya selesai. Ingin uang beasiswa secepatnya cair. Dan aku bisa pulang dari perantauan. Bertemu dan menghilangkan kerinduan. Malam ini, puncak dari kerinduan itu. Saat kucoba menelfon dengan BBM, Whats App, tapi tak ada jawaban. Gemes. Ingin menelfon tapi tak bisa!. Dan obat dari segala obat rindu ; doa. Diakhir solat ku berdoa, ya Allah, ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa keluargaku. Jauhkan kami dari siksa api ner...

Halo, Hati.

Jum'at berkah, 26 Agustus 2016 Halo, hati. Apa kabarmu? masih bisa merasakan mana yang benar-benar pilihanmu? atau hanya ingin karena menurutmu itu keren? Hati, pilihlah yang kamu yakin mampu melakukannya. Pilihlah yang sesuai dengan kesiapanmu. Lagi-lagi kita bicara soal 'kadar' dan 'ukuran'. Seringkali aku lupa pelajaran kimia, bagaimana caranya mengukur kadar kemampuan. Tapi aku tidak lupa pelajaran berhitung. Karena yang kutau, setiap hitungan semangat juang, usaha untuk mencoba, dan doa yang terus diulang seringkali mengalahkan rasa ketidakmampuan. Mampu itu relatif, hati. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Pandangan orang lain kah? atau diri sendiri? asal siap saja dengan konsekuensinya. Maaf, hati. Aku terlalu 'ngalor-ngidul'. Sebenarnya hanya untuk memastikanmu. Kau tau kan? kadang aku berfikir apakah aku bodoh dan benar-benar tidak bisa?. Tapi aku percaya kalimat bijak yang legendaris itu, "Tidak ada orang bodoh, yang ada...

Inilah (Curcolan) Tugas Farmasis

Intro: Me: anak farmasi yang "ga mau diem" ;  Curiosity tinggi, ibarat bahasa perusahaan yang lagi buka lowongan kerja "any kind of science are welcome". Lebih seneng bikin project sana-sini. Lebih seneng screening mana orang yang bisa berpotensi diajak dalam tim di project. Seneng ketemu orang baru, ngejalin relasi. Seneng ngebuat gagasan dan ide-ide baru untuk dituangkan dalam project dan paper. Ga cuma project spesifik farmasi, tapi juga psikologi ataupun integrated science lainnya. Part-time researcher. Tertarik juga dengan bidang pendidikan dan peningkatan prestasi. Seneng dengan ilmu-ilmu baru. Kemudian, pas liat berita terbaru penyakit yang disosialisasikan dari rumah sakit/puskesmas/ bahkan apoteker yang kerja di industri farmasi ---- me, langsung ngerasa "lho, Ras. Itu juga loh nantinya duniamu. Community pharmacy dan industri farmasi". Me----iyayah, berasa ga nyantai. Inti: Sosialisasi terkait penyakit difteri sedang digencarkan seluas-lua...