Langsung ke konten utama

Dad: a daughter's first love

'Dad: a daughter's first love'. Yep. This is sooo true! Dan ya, kata orang, dari sosok ayahlah kita bisa netapin standar laki-laki (sorry to say 🙏). Mungkin ada benernya juga. Karena ayahlah sosok laki-laki yang selalu menjaga putrinya, sumber ilmu awal (selain ibu), tempat diskusi (baik itu tentang agama maupun dunia). Sosok yang melindungi putrinya, tidak ingin menyakiti putrinya, yang memastikan bahwa dia akan merawat dan menjaga putrinya. Menanamkan mimpi-mimpinya, dan mendukung semua impian putrinya. Ayah, referensi dengan bukti terpercaya 😆.

Iya. Ayah yang ngajarin aku buat ga takut bermimpi. Kalimat ayah juga yang ngebuat aku terharu, "Silahkan sekolah setinggi-tingginya, dimana pun tempat terbaiknya. Jangan khawatirin biaya. Itu urusan ayah. Yang penting kamu belajar". Juga kalimat "Seperti apa kataku dulu", katanya. "Kepakkan sayapmu, sejauh yang kau mau, sepanjang kau mampu" yang ayah tulis pas aku berhasil ngewujudin impian satu-persatu.

Ayah juga tempat bertanya ilmu agama. Bahkan kalimat yang ngebuat aku tertohok dan sampai saat ini terngiang di hati adalah "Jangan niatin ibadah untuk hal yang kamu inginkan. Niatin ibadah ya untuk beribadah itu sendiri. Untuk Allah. Terkabulnya doamu itu bonus dari hasil ibadahmu. Jangan sampai kita tahajjud, puasa sunah,atau ibadah lainnya buat bisa dapetin A, B, C. Niatin ibadah itu untuk taqorub, mendekatkan diri kepada Tuhan. Jadi harus lillah". Jleb! 😂😂😂.

Ga jarang, ayah tempat aku nanya second opinion (setelah menimang-nimang sesuai petunjuk agama), just to make sure, karena ridho Allah ada di ridhonya orang tua. And mostly it will ended up with self-talk like "haha tuh kan, Ras. Kamu udah tau jawabannya emang itu. Ayah juga bilang gitu. Berati jangan, ga usah. Riskan". berat, kamu ga akan kuat, biar aku saja (*loh wkwk krik krik).

Dan ayah malah ketawa pas aku cerita kalo ada adik kelas yang bilang 'teteh niat wisuda ga sih?!' Karena semalem aku baru inget lagi kalo belum ambil toga. Padahal udah H-sekian. Sekalem itu, dan ketawanya ayah nemenin ketawanya aku. Iya, ngetawain kekonyolan ini 😆.

Hei, btw, jangan bilang ayah kalo aku nulis ini ya, ssttt! 🤐🙊😆 LOL.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindu (lagi)

Satu hal yang kubenci dari merindu ; ketika rindu, tapi tak bisa berbuat apa-apa BBM, Whats App, Line, bagiku terlalu tidak instan. Aku tak ingin slow respon . Tapi apa daya, bakatnya mahasiswa yang merantau, ketika rindu yang memuncak namun kondisi keuangan mencekak ; tak punya pulsa. Aku memang sangat ingin menelfon kalian, menanyakan kabar dan memberanikan diri berkata, "Ayah, Ibu, yang sehat ya. Laras sayang kalian". Semua omong kosong jika disandingkan dengan fakta saldo pulsa. Klasik sekali masalah ini. Rasanya ingin UAS secepatnya selesai. Ingin uang beasiswa secepatnya cair. Dan aku bisa pulang dari perantauan. Bertemu dan menghilangkan kerinduan. Malam ini, puncak dari kerinduan itu. Saat kucoba menelfon dengan BBM, Whats App, tapi tak ada jawaban. Gemes. Ingin menelfon tapi tak bisa!. Dan obat dari segala obat rindu ; doa. Diakhir solat ku berdoa, ya Allah, ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa keluargaku. Jauhkan kami dari siksa api ner...

Halo, Hati.

Jum'at berkah, 26 Agustus 2016 Halo, hati. Apa kabarmu? masih bisa merasakan mana yang benar-benar pilihanmu? atau hanya ingin karena menurutmu itu keren? Hati, pilihlah yang kamu yakin mampu melakukannya. Pilihlah yang sesuai dengan kesiapanmu. Lagi-lagi kita bicara soal 'kadar' dan 'ukuran'. Seringkali aku lupa pelajaran kimia, bagaimana caranya mengukur kadar kemampuan. Tapi aku tidak lupa pelajaran berhitung. Karena yang kutau, setiap hitungan semangat juang, usaha untuk mencoba, dan doa yang terus diulang seringkali mengalahkan rasa ketidakmampuan. Mampu itu relatif, hati. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Pandangan orang lain kah? atau diri sendiri? asal siap saja dengan konsekuensinya. Maaf, hati. Aku terlalu 'ngalor-ngidul'. Sebenarnya hanya untuk memastikanmu. Kau tau kan? kadang aku berfikir apakah aku bodoh dan benar-benar tidak bisa?. Tapi aku percaya kalimat bijak yang legendaris itu, "Tidak ada orang bodoh, yang ada...

Inilah (Curcolan) Tugas Farmasis

Intro: Me: anak farmasi yang "ga mau diem" ;  Curiosity tinggi, ibarat bahasa perusahaan yang lagi buka lowongan kerja "any kind of science are welcome". Lebih seneng bikin project sana-sini. Lebih seneng screening mana orang yang bisa berpotensi diajak dalam tim di project. Seneng ketemu orang baru, ngejalin relasi. Seneng ngebuat gagasan dan ide-ide baru untuk dituangkan dalam project dan paper. Ga cuma project spesifik farmasi, tapi juga psikologi ataupun integrated science lainnya. Part-time researcher. Tertarik juga dengan bidang pendidikan dan peningkatan prestasi. Seneng dengan ilmu-ilmu baru. Kemudian, pas liat berita terbaru penyakit yang disosialisasikan dari rumah sakit/puskesmas/ bahkan apoteker yang kerja di industri farmasi ---- me, langsung ngerasa "lho, Ras. Itu juga loh nantinya duniamu. Community pharmacy dan industri farmasi". Me----iyayah, berasa ga nyantai. Inti: Sosialisasi terkait penyakit difteri sedang digencarkan seluas-lua...