Berasa melamban, diantara yang tetap bergerak.
Berasa tetap mengayuh, tapi dengan tenaga seadanya, dengan pikiran seadanya, diantara hal-hal lain yang juga harus dipikirkan. -Dan orang lain yang juga harus diperhatikan.
Tapi sekaligus merasa ini kehebatan perempuan, tetap memikirkan fokus yang lain, dan jika mampu dan beruntung, sambil merajut impiannya sendiri. Meskipun tak secepat pada awalnya.
Pada akhirnya perempuan akan melamban. Bahkan rela melamban, dengan senang hati. Karena ia membantu yang lain, memikirkan yang lain. Seringkali, tanpa paksaan, mengesampingkan impian yang awalnya ia rajut sendiri. Jika beruntung, dengan sisa tenaga dan fikiran yang ia miliki, ia melanjutkan impiannya. Sekarang tidak boleh ada kata "memikirkan diri sendiri" terbesit dibenaknya.
Sekali lagi, ini bukan kelemahannya. Ini justru kelebihannya. Mundur selangkah untuk mendorong maju orang-orang disekitarnya, yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam dukungan perbuatan dan doanya yang juga tak pernah henti. Bermunajat lebih lama dari biasanya.
Sebagai perempuan, aku heran. Kenapa perempuan terlalu peduli, dengan sendirinya ikut memikul beban dan harapan orang. Tanpa pikir panjang apakah tubuh kecilnya mampu menopang.
Dan yang bisa aku jawab...
kekutan perempuan bukan dilihat dari badan dan ototnya. Bukan juga dari IQ atau pikirannya karena seringkali ia kesampingkan logika. Tapi dari hatinya yang seluas samudera. Dari ketulusan munajatnya, kelembutannya.
Perempuan itu berjanji, pada dirinya sendiri, dengan segala letih yang mungkin menerpanya, ia harus tetap kuat, ia harus tetap bahagia.
Ia yang harus siaga, untuk orang disekitarnya, dan untuk dirinya sendiri.
Dan perempuan itu, aku.
Diantara segala sadar dan masa depan.
Cikarang, 6 September 2018.
Komentar
Posting Komentar