Melihat sekarang banyak orang yang jalan-jalan, pergi ke CFD, ke tempat pariwisata, menggelar resepsi pernikahan dengan ramai, dsb. Entah menganggap pandemi ini tidak nyata atau memang sudah sangat bosan dan sangat butuh refreshing agar tetap bisa menikmati hidup.
Nyatanya, melihat itu semua kadang membuatku berfikir ; apa iya sebenarnya Covid-19 tidak semenakutkan itu? Apa jangan-jangan aku saja yang terlalu takut atau parnoan?, Toh penularan itu juga salah satunya tergantung lokasi, lamanya paparan, ketaatan terhadap kebersihan tangan, penggunaan masker, dll.
Tapi tetap saja, disituasi tertentu seringkali kita tidak sadar kan dengan refleks tubuh kita? Pun juga seringkali abai seperti;
- memegang bagian luar masker,
- makser hanya menutupi mulut dengan alasan 'engap,
- tanpa sadar menyentuh wajah,
- lupa mana bagian depan masker dan mana bagian belakang saat akan digunakan kembali,
- lupa dengan jarak minimal 2 meter yang harus dijaga,
- tidak menerapkan apa yang seharusnya dilakukan saat tiba di rumah ketika selesai dari luar, dst.
Entahlah. Melihat hal seperti itu terutama jika tau ada keluarga yang begitu, aku cuma bisa berdoa. Semoga semuanya sehat-sehat. Semoga keluargaku selalu berada dalam perlindungan dan penjagaan-Nya, terhindar dan terlindung dari Covid-19. Aamiin..
Kita semua lelah kan, untuk menganggap dan berpikir semua orang --bahkan diri kita sendiri sebagai carrier demi menyelamatkan diri dan orang lain sehingga kita harus menjaga jarak?.
Dan kita semua lelah kan, meniadakan prasangka dan memaksa diri menjadi biasa saja, menepis khawatir, juga menepis rasa tidak enakan dengan jarak yang berjauhan saat bersama keluarga/kawan? sehingga kita mengabaikan jarak dan memilih berdekatan.
Maaf ya. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengeluh atau kesel. Hanya saja...sebagai bentuk penguatan diri untuk tetap bersabar dan tidak tergoda. Semoga dapat dimengerti ya.
Dari aku, yang juga bosan #dirumahaja tapi tetap berusaha sabar tidak ikut berkerumun ramai di luar sana hanya karena bosan.
Dari aku, yang menikah hanya menggelar akad dan dilaksanakan di rumah tanpa mengundang banyak orang karena peraturan waktu awal masa pandemi (28 Maret 2020) dan khawatir banyak orang yang positif covid jika kami memaksakan ego untuk tetap menggelar resepsi.
Dari aku yang dari awal menikah hingga saat ini menahan untuk tidak dulu melakukan bulan madu ke tempat-tempat wisata (Semua tiket pesawat dan hotel di Bali di cancel).
Dari aku yang bahkan resign kerja dan tidak dulu apply kerja hingga pandemi usai karena profesiku tidak bisa WFH.
Dari aku, yang tidak ikut pulang kampung saat lebaran juga tidak ikut acara nikahan dan rekreasi keluarga karena aku dari zona merah Jakarta dan khawatir jadi carrier.
Semoga pandemi ini cepat selesai. Semua teman-teman, orangtua, saudara, keluarga, sehat-sehat. Aamiin..
Jakarta, 28 Juli 2020.
Bagus ras semangat
BalasHapus