1. Untuk kegelisahan, yang datang dipenghujung tiga
2. Aku tau, jika aku mau, aku pasti mampu
Aku sadar, jika aku sabar, aku semakin bisa berikhtiar
3. Untuk kegelisahan yang dilambangi dengan minus
Meremang diingatan, terpatri pada otak yang mulai sering berhitung mundur
Angka tiga, minus tiga, dalam hitungan minggu
4. Kepada kata mungkin yang selalu kuletakkan didepan ketidakmungkinan
Bukan kata mengakhiri tetapi kata terus dan lanjutkan
Tidak pada kata berhenti, atau sudah seperti ini
Tetapi makna ini belum berakhir dan aku tidak mau berhenti
5. Dan pada akhirnya, aku sampai di kata terakhir.
Kata inti serah, dari kepanjangan menyerah
Makna minus yang semakin membendung
Bahkan.....terjadi hiperpolarisasi ?
Kemudian kuamati. Ini jalan yang harus kulalui
6. Demi kata berkah, aku berserah
Kepada takdir Allah,
Karena kutau, yang terpenting adalah keridhoan-Nya
Dan pada apa yang bisa kutuai dari setiap makna-Nya
Selayaknya semua sudah terikat dengan takdir-Nya
Hari ini, di H-3 minggu acara. Semakin berdoa, semoga Allah memungkinkan semua pikiran ketidakmungkinan
Dan hari ini, aku merasa lelah jika hanya sendiri, lelah jika tidak berlandaskan lillah
Seperti Allah menjawab keresahanku,
apapun takdir-Nya nanti, jadi pergi atau tidak,
Allah tetap sayang.
Kembali ditemani suara keyboard laptop yang berburu. Sambil sesekali merasa Dejavu
Tapi nyatanya ada satu untukku malam ini , 'Allah ingin aku tau, aku harus semakin dekat dengannya agar lelah ini satu persatu luruh '
Semangat baru. Setelah membaca postingan dari facebook (Indonesia Qur'an Foundation). Membuatku tersadar. Aku hanya akan semakin merasa lelah jika tidak melibatkan Allah
" Jika aku anggap ini rintangan/tantangan, sudah pasti Allah lebih tahu solusinya. Serta, Allah pula lah yang
berkuasa untuk memberikan kekuatan serta kelancaran untuk dapat menaklukan rintangan/tantangan hidup tersebut apabila kita memohon kepada-Nya.
Begitulah, sebagaimana perkataan AaGym, masalah ada bukan untuk kita
selesaikan sendiri. Masalah ada agar kita mau kembali kepada Allah,
merendahkan diri, memohon ampunan serta pertolongan-Nya.
Maka dari itu, jangan mengandalkan diri sendiri!
pertemukanlah kebuntuan pikiran kita dengan ke-Mahakuasaan Allah, kelemahan daya kita dengan ke-Mahaperkasaan Allah!
pertemukanlah kebuntuan pikiran kita dengan ke-Mahakuasaan Allah, kelemahan daya kita dengan ke-Mahaperkasaan Allah!
ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ
شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ اِلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Duhai Yang Mahahidup, duhai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah untukku urusanku semuanya, dan janganlah Engkau serahkan aku kepada
diriku sendiri walau sekelip mata.” [HR. Nasa’i, al-Hakim, al-Bazzar] " - Dikutip dari Indonesia Qur'an Foundation (dengan beberapa perubahan).
diriku sendiri walau sekelip mata.” [HR. Nasa’i, al-Hakim, al-Bazzar] " - Dikutip dari Indonesia Qur'an Foundation (dengan beberapa perubahan).
Jadi atau tidaknya keberangkatan, wallahua'lam.
Bismillah, Allah lebih tau yang terbaik untukku. Yang penting Allah ridho :)
Dan jika aku sudah melibatkan-Mu, ya Allah
Tidak ada alasan ragu bagiku
Karena apapun kehendak-Mu, itu pasti yang terbaik bagiku :)
Kunamakan ini puisi,
22 : 48 WIB. Disela-sela persiapan UTS Mikrobiologi Farmasi. Diantara rimbunan minus 3. Di lantai kamar, Bukit Mekar Indah, Cileunyi, Bandung.

Komentar
Posting Komentar