Jum'at berkah, 26 Agustus 2016
Halo, hati. Apa kabarmu? masih bisa merasakan mana yang benar-benar pilihanmu? atau hanya ingin karena menurutmu itu keren?
Hati, pilihlah yang kamu yakin mampu melakukannya. Pilihlah yang sesuai dengan kesiapanmu. Lagi-lagi kita bicara soal 'kadar' dan 'ukuran'.
Seringkali aku lupa pelajaran kimia, bagaimana caranya mengukur kadar kemampuan. Tapi aku tidak lupa pelajaran berhitung. Karena yang kutau, setiap hitungan semangat juang, usaha untuk mencoba, dan doa yang terus diulang seringkali mengalahkan rasa ketidakmampuan.
Mampu itu relatif, hati. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Pandangan orang lain kah? atau diri sendiri? asal siap saja dengan konsekuensinya.
Maaf, hati. Aku terlalu 'ngalor-ngidul'. Sebenarnya hanya untuk memastikanmu.
Kau tau kan? kadang aku berfikir apakah aku bodoh dan benar-benar tidak bisa?. Tapi aku percaya kalimat bijak yang legendaris itu, "Tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang yang tidak mau mencoba".
Berati aku tidak bodoh, hehehe. karena aku sudah dan masih akan terus mencoba. I won't give up. Buktinya alhamdulillah jadi lebih baik.
Tapi kadang kita terjebak dalam kotak 'kesempurnaan'. Salah satunya dari pandangan orang tentang kita. Aku tidak menyalahkan 'standar' yang dibentuk, karena itu sudah pasti untuk kebaikan. Hanya saja, mungkin aku yang salah karena terlambat menyadari pentingnya hal ini, yang ternyata menurut kotak 'kesempurnaan' adalah salah satu bagian penentu hidupmu di masa yang akan datang.
Pusing? Hehe maaf, mari kudeskripsikan lagi.
Banyak orang yang langsung melihat finish line, without seeing the start line. Sama hal nya dengan nilai. Berlomba-lomba mencari kesempurnaan nilai, tanpa melihat proses jelasnya, tanpa melihat apakah pelajaran itu benar-benar yang kita butuhkan dan sinkron dengan perencanaan hidup kita. Apa aku salah jika aku berpikir demikian? meskipun aku yakin aku tidak ingin disalahkan. hehehe.
Kalau boleh jujur, kotak 'kesempurnaan' itu kadang jadi mendiskriminasi. Tapi memang tidak baik saling menyalahkan. Hidup adalah untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Kalau kamu tak sanggup dan tak mampu bersaing, kamu akan tertinggal. Begitu bunyi hukumnya.
Ah, hati...aku yakin kau mengerti. Maaf, sekali lagi aku hanya ingin memastikan. Mensinkronkan antara kamu dan pikiran.
Kemarin pagi aku nekat mengirimkan CV ke 9 e-mail professor di Jepang. Hanya untuk merasa 'biar ga penasaran'.
Sore harinya saat aku cek, ada 2 yang memberikan respon. Deg-degan? tentu. Karena aku hanya 'coba-coba' yang diniatkan untuk serius. Meski aku merasa kesiapanku belum 100%. Saat ditanya "apakah sudah dapat beasiswa? jika ingin mendapat MEXT aku ingin berbicara denganmu via skype".
Aku tau aku harus serius, meskipun dalam kondisi deg-degan. Seketika ragu terabsorbsi ke dalam pikiranku. in spite of talking about your preparations, it's deeply about my heart, my condition. am I really interest to join it? am I sure that I really love to study in that field?
But hey. Alhamdulillah dapet kalimat motivasi. comes from a wise person, my lecturer who studied in Japan. Katanya, "anggap saja ini pengalaman Laras mengontak professor. Tidak ada yang tahu Laras bakalan lanjut kemana selain berikhtiar".
So from now on... Bismillah ya Allah, ini salah satu bentuk ikhtiarku. Coba-coba yang diikhtiarkan. karena aku yakin, jika Engkau ridho, apa saja akan jadi mungkin. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Siapa tau ada rezekiku di sini.
Balik lagi ke kotak 'kesempurnaan' orang-orang. Tentang hal itu, sekali lagi rezeki tidak akan pernah tertukar. siapa tau ada rezekiku di sini. karena Allah melihat proses. Seberapa besar usahamu?. Biar Allah yang bantu hasilmu.
so, hati. Don't be too worried. this is one of your dreams, right?. go achieve your dreams and promise me you won't give up. put your spirit on a high bar. fighting!
Bismillah...
jangan lupa.. orang indramayu wajib follow indramayu.top ^_^
BalasHapussalam kenal..