Dear me, how was your day? Is everything okay?
Ada banyak hal yang ternyata ga bisa kamu bicarain dengan gamblang ke orang lain tapi dengan detil bisa kamu tuliskan. Tentang pekerjaan, tujuan, masa depan, mimpi-mimpi yang dulu pernah kamu tekadkan, keluarga, bahkan tentang diri sendiri.
Sini, aku ceritain lagi betapa perjuanganmu sampai ke titik ini ga sia-sia. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Pasti ada masa nya.
**********
Inget ga sih? Dulu, kamu sangat termotivasi untuk S2 --bahkan ke luar negeri. Isi file di laptop kamu, kegiatan kamu, hampir semuanya mengarah kesitu.
Berawal dari conference, ketemu temen-temen yang se-mimpi, keterima Youth Connection Japan yang dibina untuk lanjutin studi di Jepang, udah sampe kontakan sama profesor disana, presentasi depan prof nya, sampai-sampai kamu juga jadi founder Pejuang Prestasi --non-profit organization yang ngasih info dan sharing terkait cara studi di LN.
Bersyukur kamu ketemu temen-temen yang klop untuk bikin paper bareng, submit-submit paper ke berbagai conference (bahkan sampe bikin proposal bantuan dana --iya, mahasiswa mah duit darimana wkwk).
Bersyukur kamu ketemu temen-temen yang masyaAllah ikhlas ngebantu di Pejuang Prestasi, baik itu sebagai hidden figures (orang-orang dibalik setiap terlaksananya sharing online. I love you guys!). Dan para pemateri-pemateri kece yang berkenan membagikan ilmu dan pengalamannya sehingga membuat para peserta termotivasi. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Aamiin.
Inget ga sih saat kamu hampiiirrrr aja ga bisa studi profesi Apoteker?
Setelah susah-payah niat dan usaha kamu untuk bisa "sesuai" dengan persyaratan masuk apoteker. Kemudian setelah sesuai, ternyata diawal ada kendala biaya.
Impian kamu kan emang pengen sekolah setinggi-tingginya. Entah jadi apapun itu profesi kerja kamu ke-depannya.
Kemudian saat tau ternyata ada kendala biaya, awalnya kamu merasa menjadi pribadi yang egois. Yang ambisius tapi tidak pada tempatnya.
"Gapapa, ga mesti apoteker sekarang" pikirmu membesarkan hati. Tapi Alhamdulillah, ada orang yang dengan dermawannya menawarkan bantuan. Dari para pengurus paguyuban KSE UNPAD, juga dari seorang ketua angkatan yang berkenan menalangi dana. Akhirnya kamu memilih untuk menerima bantuan dana dari ketua angkatan. Kamu bilang, kamu bakal cicil besaran UKT nya sampai lunas. Semoga, orang-orang yang telah menawarkan dan membantumu, diberi balasan beribu kebaikan. Aamiin..
Dari situ, kamu makin memantapkan tekad bahwa kamu harus belajar dengan sebaik mungkin.
"Jika Allah telah membantuku masuk apoteker, meridhoi keinginanku untuk studi ini, maka pasti Allah akan bantu aku juga untuk bisa lulus darisini".
Dan kalimat yang selalu kamu bisikkan agar kamu kuat dalam berjuang di bangku akademik adalah "I know I am not the smartest student on my class. But I do have courage and curiousity. I can do this".
Lalu, dipertengahan studi apoteker, kamu menyadari, bahwa mungkin lebih baik kamu menunda dulu keinginan untuk langsung lanjut studi S2. Mengingat bahwa persiapannya pun butuh dana, terutama jika ingin ke LN. Mengingat bahwa sudah saatnya adikmu yang kuliah. Akan lebih baik jika kamu bisa bantu membiayai kuliah adikmu.
Kemudian, semenjak PKPA kamu mulai apply-apply kerja. Berharap kamu sudah dapat kerja bahkan sebelum kelulusan apoteker. Ketika teman-temanmu jalan-jalan sebagai bentuk refreshing karena sudah lulus UKAI, kamu berkutat mempelajari soal-soal psikotest kerja. And you did it! Alhamdulillah keterima kerja (sebelum sumpah apt) di bidang yang kamu ngerasa capable menjalaninya (meskipun awalnya bidang itu ingin kamu hindari).
Sekarang, saat kamu sudah kerja, kamu ditawari oleh dosen untuk bantu ikut membuat proposal penelitian yang didanai LPDP. Jika goal, kamu bisa S2 gratis dan dapat fee. Tergoda? Tentu. Tapi kemudian godaan lain datang ; pertanyaan teman-teman yang nanya "gimana persiapan kamu untuk S2 di LN? Udah sampai mana?" --yang membuatmu merasa tertinggal (atau lebih tepatnya perlahan meninggalkan impian untuk lanjutin studi di LN). Karena sekarang, hidupmu harus berdasarkan realita: kerja dulu. Lunasi hutang UKT studi apoteker ke temenmu (Alhamdulillah sudah lunas). Kerja dulu. Bantu biayai adik kuliah. Kerja dulu. Nabung untuk persiapan les IELTS. Kerja dulu. (Nabung untuk meniqa wkwk).
Karena sekarang kamu menyadari, bahwa semakin dewasa seseorang (terutama perempuan), harus semakin bisa memilah mana mimpi yang harus kita teteg perjuangin, mana yang harus kita bersabar menunggu waktu terbaiknya untuk mewujudkan impian itu. Me-manage skala prioritas (impian).
Sebenernya, ayah-ibu bahkan ga membebankan apapun ke kamu. Kamu bebas. Hanya kamunya saja yang ingin membantu. Karena kamu pernah merasakan bagaimana rasanya ingin studi tapi sedang tak ada biaya.
Kamu, dulu, mengiyakan menjadi pemateri di event-event karena seringkali dapet fee (atau bahkan makan cuma-cuma). Melamar sebagai asisten laboratorium karena selain memperkaya CV juga dapet fee. Mengikuti peluang mendapatkan beasiswa; KSE (untuk living cost selama kuliah S1), One Asia Foundation (untuk bantu cicil uang studi apt), dan berpindah ke beasiswa PT. Sanbe Farma (untuk membayar UKT semester 2 kuliah apoteker).
Dan sekarang, ketika hidup membawamu ke fase yang lain: dunia kerja. Banyak orang yang menanyakan "apa mimpi kamu? Apa rencana jangka panjang kamu?".
Sejujurnya, ini yang masih kamu bingungkan. After all you've done (and you've survived). Lalu sekarang apa? Masihkah mimpi itu adalah lanjut studi di LN dan menjadi scientist? Atau ingin merasakan posisi kerja sebagai supervisor lalu bertahap menjadi manager --menjadi muslimah yang expert dibidang industri farmasi--, ingin menjadi anak, istri, sekaligus ibu yang Solehah? Atau apa?. --yang ini, mari kita lihat jawaban takdirnya dengan perlahan. Sampai detik ini, kamu hanya bisa mencoba semampumu untuk melakukan apa yang ingin dan seharusnya kamu jalani.
-- I wasn't okay until my mom said that she believes me --. Ketika kamu cerita ke ibu apa yang kamu khawatirkan dari kerjaan, apa yang kamu penasaran dari kerjaan, apa tantangan dari pekerjaanmu. Ibu bilang, ibu percaya sama kamu bahwa kamu bisa. Kamu sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak mudah. Dan ibu percaya kamu bisa melewatinya. And this, dear, makes you feel warmth, loved, that you finally can keep your spirit on a high bar (again).
Jadi, udah ya, ga usah bingung-bingung lagi. Ga usah ngerasa minder gatau impiannya apa. Ga usah ngerasa telat berjuang dibanding temen-temen yang lain. Gapapa, kamu juga punya skala prioritasnya untuk hidup kamu --mana yang lebih harus kamu dahulu kan. Dan mana yang bisa sambil berjalan beriringan--.
Bogor, 24 Juli 2019.
Komentar
Posting Komentar